Hakekat dan Tujuan Pendidikan

“Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup”

A. PENDAHULUAN  
Manusia adalah makhluk yang bisa berkembang dan berproduksi. Proses produksi manusia tidak hanya secara kuantitatif tapi juga harus secara kualitatif. Agar perkembangan manusia menjadi manusia itu manusiawi di butuhkan upaya humanisasi. Ada pendapat mengatakan bahwa salah satu upaya untuk memanusiakan manusia adalah melalui proses pendidikan.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, jadi dalam kehidupannya dia selalu berinteraksi dengan manusia yang lainnya. Upaya humanisasi manusia melalui proses pendidikan melibatkan banyak manusia lainnya. Di rumah yang berperan besar adalah orang tua. Di sekolah yang berperan besar adalah para guru, sedangkan di lingkungan masyarakat yang berperan dalam pendidikan adalah teman pergaulannya. Selain itu faktor individu juga berperan juga menentukan hasil dari upaya tersebut.
Mengapa manusia perlu di manusiakan lewat pendidikan? Dan apakah pendidikan itu sendiri? Esensi pendidikan itu apa? Dan tujuan akhir dari pendidikan yang di maksud?
B. HAKEKAT PENDIDIKAN
Ketika kita mencari suatu hakekat maka kita akan mulai menyelami sebuah ontologi dalam filsafat. Dalam membicarakan pendidikan maka kita akan mengenal filsafat pendidikan yang dalam pembicaraan tentang filsafat pendidikan tidak dapat dilepaskan dari gagasan kita tentang manusia . Mencari hakekat pendidikan adalah menelusuri manusia itu sendiri sebagai bagaian pendidikan.
Melihat pendidikan dan prosesnya kepada manusia, sebetulnya pendidikan itu sendiri adalah sebagai suatu proses kemanusiaan dan pemanusiaan. Istilah kemanusiaan secara leksikal bermakna sifat-sifat manusia, berperilaku selayaknya perilaku normal manusia, atau bertindak dalam logika berpikir sebagai manusia. Pemanusiaan secara leksikal bermakna proses menjadikan manusia agar memeliki rasa kemanusiaan, menjadi manusia dewasa, manusia dalam makna seutuhnya. Artinya dia menjadi riil manusia yang mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara penuh sebagai manusia . Tugas pokok dan fungsi tersebut adalah sebagai mandataris Tuhan (khalifatullah fi al-Ardhi).
Sedangkan menurut Freire hakekat pendidikan adalah membebaskan. Freire mendobrak bahwa pendidikan haruslah mencermati realitas sosial. Pendidikan tidaklah dibatasi oleh metode dan tekhnik pengajaran bagi anak didik. Pendidikan untuk kebebasan ini tidak hanya sekedar dengan menggunakan proyektor dan kecanggihan sarana tekhnologi lainnya yang ditawarkan seseuatu kepada peserta didik yang berasal dari latar belakang apapun. Namun sebagai sebuah praksis sosial, pendidikan berupaya memberikan bantuan membebaskan manusia di dalam kehidupan objektif dari penindasan yang mencekik mereka . Hal senada juga di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan seharusnya memerdekakan, YB. Mangunwijaya yang beranggapan pendidikan haruslah berbasis realitas sosial.
Kata Latin untuk mendidik adalah educare yang berarti menarik keluar dari, dan ini boleh diartikan usaha pemuliaan. Kata educare memberi arah kepada pemuliaan manusia, atau pembentukan manusia . Dalam pengertian sederhana secara leksikal education (pendidikan) adalah suatu proses pembebasan untuk membuat manusia lebih manusiawi. Manusiawi berarti manusia yang lebih mulia, yang keluar dari ketertindasan dan kebodohan.

C. APA TUJUAN PENDIDIKAN ?
Secara bahasa tujuan adalah arah, haluan, jurusan, maksud . Suatu contoh adalah ketika orangtua menyekolahkan anaknya agar menjadi cerdas dan berakhlaq, maka tujuan dia mendidik anaknya ke sekolah adalah untuk hal tersebut. Dalam skala yang lebih besar pendidikan diatur oleh pemerintah baik sistem maupun managemennya. Di indonesia berdasarkan undang-undang nomor 2 tahun 1989 disebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan mannusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan,kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan .
Contoh lain tujuan pendidikan yang dipegang oleh negara adalah konsep tujuan pendidikan di Amerika yang di keluarkan pada tahun 1989 juga. Mereka menggunakan, konsep "clear, concise, target" untuk menyusun tujuan pendidikan mereka. Dalam konsep ini adalah bahwa tujuan pendidikan itu harus jelas, ada kontroling dalam pelaksanaannya serta hasil yang akan dicapai dalam waktu tertentu. Ide tentang hal ini sebelumnya sudah dikritik sekali oleh Ivan Illich, dengan ide “de-sekolah-isasi masyarakat” , karena pendidikan di Amerika telah mengharuskan sekolah menjadi satu-satunya tempat belajar dan hanya kebanyakan melahirkan output akademik dengan biaya yang sangat mahal. Dalam bertahan hidup seseorang harus belajar dimanapun dan kapanpun dan tidak harus dalam kerangkeng bangku sekolah. Karena itulah Illich mengusulkan untuk bebas dari sekolah formal.
Pendidikan dimanapun dan kapanpun pada esensinya adalah sama.Hal ini di ungkapakan oleh Robert Maynard Hutchins yaitu bahwa :
Satu tujuan pendidikan adalah mengeluarkan unsur-unsur kemanusiaan yang sama dalam diri kita. Unsur unsur itu pada dasranya tidak berbeda meski tempat dan waktunya berlain-lainan. Jadi, anggapan bahwa manusia harus dididik untuk hidup di tempat atau di zaman tertentu, menyesuaikan manusia dengan lingkungan tertentu, adalah gagasan asing dan tidak sesuai dengan konsepsi pendidikan sejati.
Pendidikan mengisyaratkan pengajaran. Pengajaran mengisyaratkan pengetahuan. pengetahuan adalah kebenaran. Kebenaran, dimanapun, kapanpun, sama saja .
Pendidikan dapat dikatakan berhasil jika sudah mempunyai tujuan-tujuan yang jelas dan ditempuh dengan tindakan-tindakan yang jelas pula. Kalau boleh bicara jujur, sebenarnya pendidikan di Indonesia ini masih dapat dikatakan belum berhasil. Terbukti dengan semakin tingginya angka pengangguran di setiap tahunnya . Pada Tahun 2005 BPS mennjukkan bahwa pengangguran lulusan Perguruan Tinggi adalah 385.418, yaitu posisi kedua setelah lulusan SMA . Pada survey bulan Agustus 2007 menunjukkan kenaikan menjadi 963.779 .
Bila kita kembali kepada hakekat pendidikan maka pendidikan pada esensinya juga bertujuan untuk membantu manusia menemukan hakekat kemanusiaannya. Proses humanisasi ini adalah –meminjam istilah Freire- pembebasan. Pembebasan manusia dari belenggu stuktur sosila, hegemoni kekasaan, cara pikir yang salah, doktrin tertentu dan sebagainya.
Hakekat dan tujuan pendidikan islam
Pada abad ke-20 ada suatu pemberontakkan kepada Tuhan. Dimana pernyataan Darwin bahwa manusia adalah anak-anak dari monyet, bukan ciptaan Tuhan. Sigmund Freud yang menuhankan akal dan Nietzsche yaang mengatakan bahwa Tuhan telah mati . Pernyataan ini adalah pertanyaan apakah Tuhan telah gagal ataukah ada kesalahan dalam pendidikan terutama pendidikan agama?
Dalam Islam hakikat manusia adalah makhluq ciptaan Allah. Sedang menurut tujuan umum pendidikan Islam ialah terwujudnya manusia sebagai hamba Allah. Jadi menurut Islam, pendidikan haruslah menjadikan seluruh manusia yang menghambakan kepada Allah. Yang dimaksud menghambakan diri ialah beribadah kepada Allah (adz-Dzrariyat:56).
Imam Al-Gazali (w.1111 M) sebagaimana disimpulkan oleh Fathiyah Hasan Sulaiman, pada dasarnya mengemukakan dua tujuan pokok pendidikan Islam: (1) untuk mencapai kesempurnaan manusia dalam mendekatkan diri kepada Tuhan; dan (2) sekaligus untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia dalam menjalani hidup dan penghidupannya guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Mengutip Sayyid Quth, bahwa sessunnguhnya tujuan pendidikan adalah untuk mewujudkan manusia yang yang baik (al-insan al-shalih) yang sudah pasti bersifat universal dan sudah pasti di akui semua orang dan semua aliran tanpa memperosalkan di mana pun negerinya dan apapun agamanya . Banyak sekali sebetulnya apa yang dikemukakanoleh para ahli muslim tapi kesemuanya pada esensinya sama dengan di atas. Selain itu bahwa pendidikan itu juga untuk menyempurnakan akhlaq manusia.

D. THE END OF EDUCATION
The end of education adalah istilah dari Postman yang bermakna ambigu yang bisa berarti hasil dari tujuan pendidikan, dan bisa berarti akhir atau matinya pendidikan. Mungkin benar juga apa yang pernah dikatakan Margareth Teacher, sekolah itu candu. Sekolah telah disorientasi pendidikan yang tidak transfer of knowledge dan tarnsfer of value. Sekolah sudah terjebak dalam formalitas dan kapitalisme .
Apakah pendidikan yang berhasil itu harus mahal? Ternyata banyak contoh kasus lembaga yang menekankan kepada hakikat tujuan pendidikan, karena itu semua tidak membutuhkan biaya yang sangat mahal. Sebagaimana halnya berbagai pondok pesantren, seminari, dan juga Perguruan Taman Siswa, serta berbagai lembaga pendidikan alternatif seperti Qoryah Thayibbah, Sekolah Kali Code yang berhasil menghasilkan siswa dan santri berkualitas meski berbiaya minimalis bahkan nyaris gratis. Keberhasilan pendidikan tidak dengan biaya yang mahal. Karena pendidikan lebih bersifat spiritual, sedangkan biaya mahal hanyalah menyangkut gebyar lahiriah material, yang berwujud gedung, sarana, dan sarana prasarana yang belum tentu menjadi jaminan bagi tercapainya hakikat tujuan pendidikan .
Bahkan tidak mungkin lagi siswa-siswa yang duduk di sekolah-sekolah yang berbiaya mahal, mereka malah akan menenuhi syarat sebagai politikus korup atau bahkan akan lahir Hitler. Kita tidak tahu semuanya sebagaimana dulu orang tua Hitler tidak tahu bahwa kecerdasan anaknya di bangku sekolah akan menjadikannya seorang genosida. Kiranya sekarang perlunya pengembalian lagi ke esensi dari hakikat dan tujuan pendidikan, dan Pendidikan Islam adalah alternatif karena di sana ada pressing pada moralitas (akhlaq).

E. KESIMPULAN
Pendidikan hakikatnya tidaklah berbuntu pada tembok sekolah saja. Lebih luas lagi kehidupan adalah pendidikan itu sendiri. Kehidupan adalah suatu perguruan yang mahaluas. Segala sesutu yang kita temua adalah sang guru. Namun dalam kehidupannya manusia membuat rule agar pendidikan itu berjalan sistematis dan memenuhi harapan daripada tujuan pendidikan itu.
Bolehlah negara membuat aturan dan syarat administratif yang njilimeti sehingga muncul SKS, UMPTN, UN, dan sebagainya. Namun dari semua usaha itu janganlah sampai terus terperosok dan terjebak ke dalam jurang peraturan tersebut. Segala aturan tersebut harus kembali pada hakikat dan tujuan dari pendidikan. Janganlah sampai kita meninggalkan fitrah kita sebagai makhluq Allah yang harus beribadah kepadanya dan berakhlaqul karimah sebagaimana dalam pendidikan Islam.

F. PENUTUP
Murad Wilfred Hoffman, seorang muallaf dari Jerman pernah mengatakan bahwa alternatif Eropa adalah Islam karena Islam adalah satu-satunya alternatif. Pendidikan Islam merupakan alternatif, dan pendidikan islam tidaklah hanya sebatas apa yang di ajarkan pada musholla, pesantren, UIN, IAIN ataupun STAIN. Hakikat pendidikan Islam bila di jabarkan sangatlah luas, karena untuk mewujudkan insan yang beribadah kepada Allah serta berakhlaqul karimah tidaklah cukup melalui lembaga pendidikan tersebut. Segala lingkungan yang melingkupi adalah lembaga pendidikan.Wallahu a’lam bi al-shawab.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

PENGARUH KEDISIPLINAN TERHADAP DAYA SERAP BELAJAR SISWA

A. Pendahuluan

Tujuan pendidikan telah dijelaskan dalam Undang-undang RI No. 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 No.1, yang berbunyi: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Artinya, pendidikan merupakan usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Perilaku tersebut antara lain adalah perilaku yang disiplin. Disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak, dalam rangka pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tidak ada hal yang lebih penting dalam manajemen diri dibandingkan dengan disiplin. Selain pentingnya menemukan arah dan tujuan hidup yang jelas, disiplin juga merupakan syarat mutlak untuk mencapai cita-cita atau melaksanakan misi hidup. Seorang anak harus disiplin dalam mengembangkan dirinya (lifetime improvements) dalam segala aspek, disiplin dalam mengelola waktu serta disiplin dalam melatih keterampilan setiap bidang yang dipilihnya. Selain itu, disiplin adalah syarat mutlak bagi anak yang akan membangun sebuah kebiasaan baru.
Setiap anak akan memiliki sebuah kebiasaan baru ketika dia secara disiplin melakukan sesuatu hal secara terus-menerus dan tidak pernah terputus selama sedikitnya 30 hingga 90 hari. Sebagai seorang siswa, membangun kebiasaan baru dapat dilakukan melalui disiplin belajar sehingga dengan disiplin ini akan dapat meningkatkan daya serapnya terhadap sesuatu yang dipelajarinya.
Sampai saat ini dan secara ideal, suatu kegiatan proses belajar mengajar (PBM) dianggap berhasil apabila rata-rata daya serap siswa (RDS) untuk suatu mata pelajaran di suatu kelas, minimal 75% dari semua materi pelajaran yang telah diajarkan. Apabila sebagian kecil siswa di kelas itu mendapatkan nilai 7,5 dan sebagian besar siswa yang mendapatkan nilai lebih atau kurang dari 7,5, maka hal tersebut dapat dikatakan bahwa rata-rata daya serap siswa rendah.
Secara umum, faktor-faktor penyebab rendahnya tingkat daya serap siswa di sekolah antara lain karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisis sesuatu. Kebiasaan dalam belajar hanya menghafal saja. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.
Banyaknya siswa yang tidak terbiasa dengan budaya membaca mengakibatkan mereka tidak memiliki daya serap yang tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali siswa yang pandai mengatur masalah waktu dan gemar disiplin dalam hal belajar, maka akan menjadikan dirinya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah.

B. Pembahasan

1. Deskripsi Kedisiplinan Siswa
a. Pengertian Kedisiplinan Siswa
Konsep disiplin merupakan suatu konsep yang berkaitan erat dengan tata tertib, aturan, atau norma dalam kehidupan bersama (yang melibatkan orang banyak). Disiplin artinya adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib, aturan, atau norma, dan lain sebagainya. Disiplin adalah sebagai suatu proses dari latihan atau belajar yang bersangkut paut dengan pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Piet A. Sahertian, "Disiplin diartikan sebagai hukuman, pengawasan, pemaksaan, kepatuhan, latihan, kemampuan tingkah laku" (Piet A. Sahertian, 1994:126). Sedangkan pengertian siswa adalah pelajar atau anak (orang) yang melakukan aktifitas belajar. Dengan demikian, disiplin siswa adalah ketaatan (kepatuhan) dari siswa kepada aturan, tata tertib atau norma di sekolah yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar.
Dari pengertian tersebut, kedisiplinan siswa dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah, yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah berkaitan dengan aktifitas pendidikan di sekolah, yang juga dikaitkan dengan kehidupan di lingkungan luar sekolah.
b. Jenis-jenis Kedisiplinan
Pembagian jenis-jenis disiplin memang terdapat perbedaan, karena masing-masing orang membagi dalam sudut pandang yang berbeda. Terdapat jenis-jenis disiplin yaitu :
1) Disiplin di rumah antara lain meliputi :
a. Disiplin belajar
b. Disiplin membantu orang tua
c. Disiplin beribadah
d. Bila meninggalkan rumah harus pamit dengan orang tua
2) Disiplin di sekolah antara lain meliputi :
a. Masuk sekolah tepat waktu
b. Memakai pakaian seragam sekolah
c. Mentaati tata tertib sekolah
d. Menghormati ibu/bapak guru
Seorang ahli dalam bidang administrasi pendidikan menyatakan bahwa: "Disiplin ada tiga yaitu disiplin tradisional, modern, dan liberal" (Piet A. Sahertin, 1994:127).
Berikut ini penjelasan mengenai jenis-jenis disiplin, sehingga pembaca akan dapat dengan mudah memahaminya.
a) Disiplin tradisional adalah disiplin yang bersifat menekan, menghukum, mengawasi, memaksa dan akibatnya merusak penilaian yang terdidik.
b) Dalam disiplin modern, pendidikan hanya menciptakan suatu yang memungkinkan agar si terdidik dapat mengatur dirinya. Jadi situasi yang akrab, hangat, bebas dari rasa takut sehingga si terdidik mengembangkan kemampuan dirinya.
c) Disiplin liberal merupakan disiplin yang diberikan sehingga anak merasa memiliki kebebasan tanpa batas.
c. Manfaat Kedisplinan
Kedisiplinan bermanfaat untuk membuat anak didik terlatih dan terkontrol dalam bertingkah laku yang pantas dan yang tidak pantas. Dengan pola disiplin dapat menyadarkan anak bahwa dengan bebasnya si anak harus mengubah dan mengendalikan segi yang tidak baik dari tingkah lakunya, menanamkan disiplin pada anak memerlukan gambaran kelas misal : guru menceritakan tata tertib di sekolah dan bukan gambaran yang samar-samar tentang tingkah laku yang diperbolehkan dan yang dilarang.
d. Cara Menanamkan Kedisiplinan pada Siswa
1) Cara otoriter
Pada cara ini guru menentukan aturan-aturan dan batasan yang mutlak yang harus ditaati anak-anak harus patuh dan tunduk dan tidak ada pilihan lain.
Dengan cara otoriter ditambah dengan sikap keras menghukum, mengancam akan menjadikan anak patuh di hadapan guru atau orang tua tetapi dibelakangnya ia akan memperlihatkan reaksi misal ; menantang atau melawan karena anak merasa dipaksa, maka menantang dan melawan bisa ditampilkan dalam tingkah laku yang melanggar norma dan menimbulkan persoalan pada dirinya maupun lingkungan rumah, sekolah dan pergaulan. Cara otoriter memang bisa diterapkan pada permulaan usaha menanamkan disiplin.
2) Cara bebas
Pada cara bebas ini pengawasan menjadi longgar, anak telah terbiasa mengatur dan menentukan sendiri apa yang dianggapnya betul, pada umumnya keadaan ini terdapat pada keluarga-keluarga yang keduanya bekerja, terlalu sibuk pada kegiatan sehingga tidak ada waktu untuk mendidik anak dalam arti sebaik-baiknya. Orang tua telah mempercayakan masalah pendidikan anak kepada guru. Yang bisa mengasuh orang tua hanya bertindak sebagai “polisi” yang mengawasi, menegor dan mungkin memarahi. Orang tua tidak bisa bergaul dengan anak, hubungan tidak akrab dan merasa bahwa anak tahu sendiri, maka perkembangan kepribadiannya menjadi tidak terarah.
3) Cara demokratis
Memperhatikan dan menghargai kebebasan anak namun kebebasan yang tidak mutlak dengan bimbingan yang penuh pengertian antara anak dan guru atau orang tuanya. Dengan cara demokratis pada anak akan tumbuh rasa tanggung jawab untuk memperlihatkan sesuatu tingkah laku dan memupuk kepercayaan dirinya dan anak mampu bertindak sesuai dengan norma dan kebebasan yang ada pada dirinya untuk memperoleh kepuasan dan menyesuaikan dirinya dan kalau tingkah lakunya tidak berkenan bagi teman-temannya maka anak mampu menghargai tuntutan pada lingkungan sekolah.
Cara lain untuk menanamkan disiplin adalah sebagai berikut.
1) Teknik yang berorientasi pada kasih sayang
Teknik yang berorientasi pada kasih sayang ini dikenal dengan menanamkan disiplin dengan menyakinkan tanpa kekuasaan, memberikan pujian dan menerangkan sebab-sebab sesuatu tingkah laku yang boleh atau tidak boleh dilakukan melalui dasar kasih sayang yang dirasakan oleh anak, anak memperkembangkan rasa tanggung jawab dan disiplin diri yang baik.
2) Teknik yang bersifat material

Teknik yang bersifat material ini menggunakan hadiah yang benar-benar berwujud atau hukuman yang bersifat mendidik, teknik ini disebut “menanamkan disiplin dengan menyakinkan melalui kekuasaan (power assertive discipline)". Tingkah laku baru ditanamkan dengan paksaan anak akan takut tidak memperoleh apa yang diinginkan (hadiah) atau takut dihukum karena tingkah laku bukan tingkah laku yang benar ingin diperlihatkan maka perlu terus menerus diawasi oleh guru di sekolah maupun orang tua di rumah.
2. Deskripsi Tingkat Daya Serap Belajar Siswa

a. Pengertian Tingkat Daya Serap Belajar Siswa

Sulchan Yasyin dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menyatakan bahwa: "Tingkat adalah jenjang; babak" (Sulchan Yasyin, 1997:481). "Daya adalah tenaga atau kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan; tenaga yang menyebabkan timbulnya gerak usaha, ikhtiar (Sulhan Yasyin, 1997:110). Arifin mengatakan bahwa: "Belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, mencapai serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru yang berakhir pada kemampuan anak dalam menguasai pelajaran yang disampaikan" (Arifin, 1976:172). Dewa Ketut Sukardi mengatakan bahwa: “Belajar adalah perubahan sikap dan kebiasaan, penguasaan nilai-nilai pengetahuan, keterampilan, penggunaan kebiasaan-kebiasaan baik, nilai-nilai pengetahuan atau keterampilan yang telah dimilikinya” (Dewa Ketut Sukardi, 1983:24). Oemar H. Malik dalam Khoiri mengatakan bahwa: “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara bertingkah laku berkat pengalaman dan latihan” (Khoiri, 2006:24). Sedangkan "Siswa adalah murid" (Sulchan Yasyin, 1997:442).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa tingkat daya serap belajar siswa adalah kemampuan siswa dalam mempelajari apa yang diajarkan, dibaca, didengar, dan dipelajari.

b. Jenis-jenis Tingkat Daya Serap Belajar Siswa

Tingkat daya serap belajar siswa bermacam-macam yaitu terdapat siswa yang memiliki daya serap belajar tinggi, sedang, dan rendah. Menurut Piet A. Sahertian ukuran tingkat daya serap belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga hal sebagai berikut.
1) siswa yang maju
2) siswa yang cukup
3) 3) siswa yang kurang
4) (Piet A. Sahertian, 1994:101).
c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Daya Serap Belajar Siswa
Tingkat daya serap belajar siswa pada dasarnya merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor yang mempengaruhi proses secara keseluruhan. Faktor-faktor yang berinteraksi tersebut berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Faktor yang mempengaruhi tingkat daya serap belajar siswa dapat dibagi menjadi dua yaitu : faktor intrinsik (dalam) dan faktor ekstrinsik (luar). Faktor yang ada dalam diri siswa berupa sikap kondisi fisik, psikologi, perkembangan kognitif, bakat dan motivasi. Antara lain motivasi untuk membangun kebiasaan baru (disiplin), sedangkan faktor yang mempengaruhi dari luar adalah : keadaan lingkungan, fasilitas, kemampuan mengajar guru, materi pelajaran dan lainnya.

Hasil interaksi tersebut menimbulkan adanya perbedaan individual dalam tingkat daya serap belajar dan menghasilkan adanya pengelompokan individu berdasarkan tipe-tipe tingkat daya serap belajar.

3. Pengaruh Kedisiplinan Siswa Terhadap Tingkat Daya Serap Belajar Siswa

Seperti yang telah penulis uraikan dalam sub topik sebelumnya bahwa disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak, dalam rangka pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tidak ada hal yang lebih penting dalam manajemen diri dibandingkan dengan disiplin. Selain pentingnya menemukan arah dan tujuan hidup yang jelas, disiplin juga merupakan syarat mutlak untuk mencapai cita-cita atau melaksanakan misi hidup. Seorang anak harus disiplin dalam mengembangkan dirinya (lifetime improvements) dalam segala aspek, disiplin dalam mengelola waktu serta disiplin dalam melatih keterampilan setiap bidang yang dipilihnya. Selain itu, disiplin adalah syarat mutlak bagi anak yang akan membangun sebuah kebiasaan baru.

Setiap anak akan memiliki sebuah kebiasaan baru ketika dia secara disiplin melakukan sesuatu hal secara terus-menerus dan tidak pernah terputus selama sedikitnya 30 hingga 90 hari. Sebagai seorang siswa, membangun kebiasaan baru dapat dilakukan melalui disiplin belajar sehingga dengan disiplin ini akan dapat meningkatkan daya serapnya terhadap sesuatu yang dipelajarinya. Sebaliknya, jika siswa tidak berupaya membangun kebiasaan baru (disiplin), maka akan menyebabkan daya serapnya rendah.

Secara umum, faktor-faktor penyebab melempemnya daya serap siswa di sekolah antara lain karena mereka tidak terbiasa dengan budaya membaca sehingga mereka lambat dalam menganalisis sesuatu. Kebiasaan dalam belajar hanya menghafal melulu. Dapat diamati bahwa siswa yang telah terbiasa dalam budaya membaca tidak mengalami kesulitan dalam proses belajar mengajar.

Banyaknya siswa yang tidak terbiasa dengan budaya membaca mengakibatkan mereka tidak memiliki daya serap yang tinggi. Daya serap yang tinggi selain disebabkan oleh faktor IQ juga ditentukan oleh pelaksanaan agenda kehidupan atau pemanfaatan waktu. Seringkali siswa yang pandai mengatur masalah waktu dan gemar disiplin dalam hal belajar, maka akan menjadikan dirinya sebagai siswa yang memiliki daya serap tinggi di sekolah. Hal ini membuktikan bahwa kedisiplinan pada diri siswa merupakan salah satu faktor penting untuk meningkatkan daya serap siswa.

C. Simpulan

1. Kedisiplinan siswa dapat dilihat dari ketaatan (kepatuhan) siswa terhadap aturan (tata tertib) yang berkaitan dengan jam belajar di sekolah, yang meliputi jam masuk sekolah dan keluar sekolah, kepatuhan siswa dalam berpakaian, kepatuhan siswa dalam mengikuti kegiatan sekolah, dan lain sebagainya. Semua aktifitas siswa yang dilihat kepatuhannya adalah berkaitan dengan aktifitas pendidikan di sekolah, yang juga dikaitkan dengan kehidupan di lingkungan luar sekolah.
2. Tingkat daya serap belajar siswa adalah kemampuan siswa dalam mempelajari apa yang diajarkan, dibaca, didengar, dan dipelajari.

D. Daftar Pustaka

Arifin. 1976. Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama di Lingkungan Sekolah dan Keluarga. Jakarta: Bumi Aksara.
Ketut Sukardi, Dewa. 1983. Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional.
Khoiri. 2006. Studi Korelasi Antara Tingkat Sosial Ekonomi Orang Tua Siswa dengan Motivasi Belajar Siswa MI Al-Firdaus Lasem Kec. Sidayu Kab. Gresik Tahun Pelajaran 2005-2006. Lamongan: STKIP PGRI.
Sahertian, Piet A. 1994. Dimensi Administrasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Yasyin, Sulhan. 1997. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Amanah.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA DALAM MASYARAKAT




  1. PENDAHULUAN
Setiap masyarakat dalam kehidupannya pasti mengalami perubahan-perubahan. Berdasarkan sifatnya, perubahan yang terjadi bukan hanya menuju kearah kemajuan, namun dapat juga menuju kearah kemunduran. Perubahan sosial yang terjadi memang telah ada sejak zaman dahulu. Ada kalanya perubahan-perubahan yang terjadi berlangsung demikian cepatnya, sehingga membingungkan manusia yang menghadapinya.
Latar belakang dibahasnya judul ini adalah untuk mengetahui perubahan-perubahan sosial budaya yang terjadi dalam masyarakat. Sedangkan perubahan sosial merupakan gejala yang umum dan bersifat universal artinya bahwa perubahan sosial terjadi pada setiap kehidupan masyarakat yang kita semua tahu akhir-akhir ini perubahan sosial dalam masyarakat begitu cepat dan drastis sehingga kita perlu membekali anak-anak kita untuk menghadapi perubahan sosial yang terjadi agar tidak terseret arus perubahan yang merugikan.

  1. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian perubahan sosial ?
2. Bagaimanakah proses perubahan sosial?
3. Apa saja bentuk dan dampak perubahan sosial?

  1. PEMBAHASAN
1.      Pengertian Perubahan Sosial
a.       Istilah dan Definisi
Dalam sosiologi, istilah “perubahan sosial” merupakan terjemahan dari  social change  (bahasa inggris).
Berikut ini beberapa ilmuwan yang mengungkapkan tentang batasan-batasan perubahan sosial :
1)      Gillin dan Gillin menyatakan bahwa perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan kondisi geografis, kebudayaan, dinamika dan komposisi penduduk, ideologi, ataupun karena adanya penemuan-penemuan baru di dalam masyarakat.
2)      Samuel Koenig menjelaskan bahwa perubahan sosial menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi-modifikasi tersebut terjadi karena sebab-sebab intern atau sebab-sebab ekstern.
3)      Selo Soemardjan menjelaskan bahwa perubahan sosial adalah segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi  istem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
4)      Ricard T. Schaefer dan Robert P. Lamm menjelaskan bahwa Perubahan signifikan yang terjadi sepanjang waktu dalam hal bentuk-bentuk perilaku dan budaya, termasuk nilai-nilai dan norma-norma.
5)      Kingsley Davis menjelaskan bahwa Perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa perubahan sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain.


b.      Pemahaman Teoritik
Dimensi
Teori Evolusioner
Teori Fungsionalisme
Teori Konflik
Teori Psikologi Sosial
Pandangan terhadap Perubahan
Perubahan merupakan hal yang normal
Perubahan merupakan hal yang tak normal. Yang normal adalah kemapanan
Perubahan merupakan hal yang normal, bahkan diperlukan.
Perubahan merupakan hal yang normal, bahkan diperlukan
Arah Perubahan
Perubahan mempunyai arah yang jelas dan dapat dikenali/dipekirakan, yaitu berkembang dari organisasi masyarakat yang sederhana menuju organisasi masyarakat yang kompleks.
Tidak memberikan penjelasan mengenai arah perubahan. Hanya menjelaskan bahwa masyarakat perlu dibawa ke terwujudnya konsensus-konsesus baru.
Tidak memberikan penjelasan mengenai arah perubahan. Hanya menjelaskan bahwa masyarakat perlu dibawa ke masyarakat yang lebih berkeadilan sosial.
Tidak memberikan penjelasan mengenai arah perubahan. Hanya menjelaskan bahwa masyarakat perlu dibawa ke masyarakat modern.
Penyebab Perubahan
Manusia maupun lingkungan, terutama adalah teknologi.
Faktor internal dan eksternal sistem sosial
Konflik yang terjadi dalam masyarakat, baik konflik kelas maupun bukan.
Individu dengan kualitas-kualitas tertentu (individu kreatif/memiliki dorongan berprestasi/manusia modern).

c.       Ciri-ciri Perubahan Sosial
Ø  Tidak ada masyarakat yang berhenti perkembangannya
Ø  Perubahan yang terjadi pada lembaga masyarakat tertentu
Ø  Perubahan sosial yang cepat biasanya mengakibatkan disorganisasi yang bersifat sementara
d.      Sumber-sumber Perubahan Sosial
1) Sistem Keyakinan
2) Organisasi
3) Penemuan Teknologi
2.      Proses Perubahan Sosial
Proses peruabhan sosial merupakan serangkaian jalannya perubahan yang dilalui dalam perkembangan masyarakat. Di dalamnya ada penyesuaian-penyesuaian yang merupakan serangkaian perubahan yang dilalui masyarakat. Ada dua bentuk proses perubahan yaitu individual proses dan kolektif proses.
Proses perubahan sosial menurut Alvin B. Bertrand :
a.       Proses Perubahan sosial diawali komunikasi sosial,
b.      Dari komunikasi sosial akan melahirkan difungsi yang merupakan proses penyebaran unsur sosial budaya.
c.       Masuknya unsur-unsur baru dalam masyarakat dapat melalui perembesan unsur sosial budaya secara damai.
Ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan budaya ;
1). Faktor Internal
a) Teknologi
b) Inovasi
c) Konflik
d) Pertumbuhan Penduduk
2). Faktor Eksternal
a) Perubahan Sosial karena Faktor Alam Sekitar
b) Perubahan Sosial karena Faktor Masyarakat Lain
ada juga faktor pendorong dan penghambat peruabhan sosial;
Faktor pendorong perubahan sosial :
-          Pendidikan yang bermutu
-          Komposisi penduduk yang beragam
-          Sistem sosial yang terbuka
-          Sikap progresif
Faktor penghambat peruabhan sosial :
-          Konservatisme elite
-          Sistem sosial tertutup
-          Pendidikan yang buruk
-          Komposisi penduduk homogen

3.      Bentuk dan Dampak Perubahan Sosial
Bentuk dari perubahan sosial antara lain :
a.  Perubahan Lambat (evolusi) dan Perubahan Cepat (revolusi)
Perubahan lambat disebut juga evolusi. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Contoh perubahan evolusi adalah perubahan pada struktur masyarakat. Suatu masyarakat pada masa tertentu bentuknya sangat sederhana, namun karena masyarakat mengalami perkembangan, maka bentuk yang sederhana tersebut akan berubah menjadi kompleks. Perubahan cepat disebut juga dengan revolusi, yaitu perubahan sosial mengenai unsur-unsur kehidupan atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang berlangsung relatif cepat. Seringkali perubahan revolusi diawali oleh munculnya konflik atau ketegangan dalam masyarakat, ketegangan-ketegangan tersebut sulit dihindari bahkan semakin berkembang dan tidak dapat dikendalikan. Terjadinya proses revolusi memerlukan persyaratan tertentu. Berikut ini beberapa persyaratan yang mendukung terciptanya revolusi :
a.       Ada keinginan umum untuk mengadakan suatu perubahan.
b.      Adanya seorang pemimpin atau sekelompok orang yang mampu memimpin masyarakat tersebut.
c.       Harus bisa memanfaatkan momentum untuk melaksanakan revolusi.
d. Harus ada tujuan gerakan yang jelas dan dapat ditunjukkan kepada rakyat.
d.      Kemampuan pemimpin dalam menampung, merumuskan, serta menegaskan rasa tidak puas masyarakat dan keinginan-keinginan yang diharapkan untuk dijadikan program dan arah gerakan revolusi.
Contoh perubahan secara revolusi adalah gerakan Revolusi Islam Iran pada tahun 1978-1979 yang berhasil menjatuhkan pemerintahan Syah Mohammad Reza Pahlevi yang otoriter dan mengubah sistem pemerintahan monarki menjadi sistem Republik Islam dengan Ayatullah Khomeini sebagai pemimpinnya.


b.  Perubahan Kecil (Mikro) dan Perubahan Besar (Makro)
Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan kecil adalah perubahan mode rambut atau perubahan mode pakaian. Sebaliknya, perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang membawa pengaruh langsung atau pengaruh berarti bagi masyarakat. Contoh perubahan besar adalah dampak ledakan penduduk dan dampak industrialisasi bagi pola kehidupan masyarakat.

c. Perubahan yang Dikehendaki atau Direncanakan (Planed Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehendaki atau Tidak Direncanakan (Unplaned Change)
Perubahan yang dikehendaki atau yang direncanakan merupakan perubahan yang telah diperkirakan atau direncanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak melakukan perubahan di masyarakat. Pihak-pihak tersebut dinamakan agent of change, yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakat untuk memimpin satu atau lebih lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan untuk mengubah suatu sistem sosial. Contoh perubahan yang dikehendaki adalah pelaksanaan pembangunan atau perubahan tatanan pemerintahan, misalnya perubahan tata pemerintahan Orde Baru menjadi tata pemerintahan Orde Reformasi. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan.
Contoh perubahan yang tidak dikehendaki atau tidak direncanakan adalah munculnya berbagai peristiwa kerusuhan menjelang masa peralihan tatanan Orde Lama ke Orde Baru dan peralihan tatanan Orde Baru ke Orde Reformasi.

Dampak dari Perubahan sosial
Perubahan sosial budaya akan mengubah adat, kebiasaan, cara pandang, bahkan ideologi suatu masyarakat. Telah dijelaskan di depan bahwa perubahan sosial budaya dapat mengarah pada hal-hal positif (kemajuan) dan hal-hal negatif (kemunduran). Hal ini tentu saja memengaruhi pola dan perilaku masyarakatnya. Berikut ini hal-hal positif atau bentuk kemajuan akibat adanya perubahan sosial budaya.
1.      Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
2.      Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional.
3.      Terciptanya penemuan-penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia.
4.      Munculnya tatanan kehidupan masyarakat baru yang lebih modern dan ideal.
Berikut ini hal-hal negatif atau bentuk kemunduran akibat adanya perubahan sosial budaya :
1.      Tergesernya bentuk-bentuk budaya nasional oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan kaidah budaya-budaya nasional.
2.      Adanya beberapa kelompok masyarakat yang mengalami ketertinggalan kemajuan budaya dan kemajuan zaman, baik dari sisi pola pikir ataupun dari sisi pola kehidupannya (cultural lag atau kesenjangan budaya).
3.      Munculnya bentuk-bentuk penyimpangan sosial baru yang makin kompleks.
4.      Lunturnya kaidah-kaidah atau norma budaya lama, misalnya lunturnya kesadaran bergotong-royong di dalam kehidupan masyarakat.


D.       SIMPULAN
1.      Perubahan Sosial adalah perubahan unsur-unsur atau struktur sosial dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain.
2.      Proses Perubahan sosial diawali komunikasi sosial yang akan melahirkan difungsi yang merupakan proses penyebaran unsur sosial budaya melalui perembesan unsur sosial budaya secara damai.
3.      Bentuk perubahan sosial,
-          berdasarkan waktu (evolusi, revolusi);
-          berdasarkan proses (planed change, unplaned change);
-          Berdasarkan Dampak (Mikro, Makro).
Dampak Positif perubahan sosial
-          Memunculkan ide-ide budaya baru yang sesuai dengan perkembangan zaman;
-          Membentuk pola pikir masyarakat yang lebih ilmiah dan rasional;
-          Terciptanya penemuan-penemuan baru yang dapat membantu aktivitas manusia;
-          Munculnya tatanan kehidupan masyarakat baru yang lebih modern dan ideal.
Dampak negatif perubahan sosial
-          Tergesernya bentuk-bentuk budaya nasional oleh budaya asing yang terkadang tidak sesuai dengan kaidah budaya-budaya nasional;
-          Adanya beberapa kelompok masyarakat yang mengalami ketertinggalan kemajuan budaya dan kemajuan zaman, baik dari sisi pola pikir ataupun dari sisi pola kehidupannya (cultural lag atau kesenjangan budaya);
-          Munculnya bentuk-bentuk penyimpangan sosial baru yang makin kompleks;
-          Lunturnya kaidah-kaidah atau norma budaya lama, misalnya lunturnya kesadaran bergotong-royong di dalam kehidupan masyarakat.

DAFTAR  PUSTAKA
Soemardjan Selo dan Soeleman Soemardi. 1974. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Robert M.Z., Lawang.1985. Buku Materi Pokok Pengantar Sosiologi Modul 4–6. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka.
Soekanto, Soerjono. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Susanto, Astrid. 1985. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Bandung: Bina Cipta.
Team Wikipedia. 2010. Perubahan Sosial. Laman http://id.wikipedia.org. diunduh pada  tanggal 22 Nopember 2010 pukul 22.37 WIB.



Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati